Postingan

"hidup yang hampir membunuhmu"

Gambar
"hidup yang hampir membunuhmu"   Semesta kerap membenci-mu, membuat-mu luluh-lantah, Tak tahu menahu, di patahkan, Di jadikan semuanya seperti layaknya ilusi, Di kendalikan isi kepala yang menyurut, Menyerang habis-habisan hingga usai, Berdamai, ahh,, gampang... Ku bilang iya dengan senyum menyeringai… tak semudah itu.. Ku balas teriak dengan abai dalam isi kepala.. Ingin ku sudahi semua bentuk perlawanan.. Semua sama, tak ada yang bersuara. Tapi berangainya ku tahu, ia berteriak. Sorot matanya…. Bahasa diamnya , Ku baca semua dengan teliti.. Hingga diam-diam, dia ku bawa ke tubuh doa, Mendekap, dan mengusapnya pelan,,, Menawarkan secangkir doa yang ku yakini dia pun sudah lupa, Itu mustahil, katanya sehabis meneguk beberapa kali, Menepuk bahunya pelan, Mengusap helai rambutnya.. Jangan lupa, kamu punya Dia , Dia yang mempunyai segalanya.. Yang sedia ada memelukmu kapan pun, Jangan takut, ini hanya seberapa…. Besok-besok biar ku baw...

"sebuah tulisan berisik"

Gambar
  "sebuah tulisan berisik" Aku menekuni rinduh-rinduh yg bertebaran, kadang hati enggan… Tapi kadang-kadangpun seperti ingin kembali, Kembali pada titik semampuku untuk menjadi tenang, Tanpa terusik, Tanpa mengusik, Apalagi berisik. Isi kepalaku sudah cukup berisik, Diterpa kebisingan yang bahkan diri pun tak tahu, Diterpa kegundahan yang bahkan diri tak tahu bagaimana bermula, Sepersekian detik mencoba mencerma, Sebenarnya ini salah atau benar, Sebenarnya ini apa? Ini hanya sebuah tulisan berisik.. Yah…. Penguatan.... Ini sudah cukup berisik…. Sangat berisik…  kadang-kadang menjadi hal yang ku-sukai, Melebihi,,, Hingga tiba-tiba menjadi sangat enggan. Diterpa dari segala sisi yang sebenarnya diri,, ya sudahlah... Sudah melakukan yang diri pikir terbaik, Tapi malah sebaliknya, bahkan enggan sama sekali.  sudah mengikuti alurnya, Tapi seperti kembali di permainkan. Ahhh, hidup…. Seperti bajingan kalau kata nadin. Mungkin seperti tenang-nya yura yang menjadi impian... Sk ...

"ku ceritakan lagi tentang sunyi"

Gambar
"ku ceritakan lagi tentang sunyi" Aku memilih-nya dalam diam, terlalu naif untuk bisa ku rengkuh,  ku habisi sekelopak,  hingga menyurutnya habis,  habis tak tersisa,  terbabat habis tanpa tau gaung gemah tangis berdarah...  sedikit saja, ku ingin usai,  menyepi pada peraduan mati yg tak terkira,  menyeruput habis kopi secangkir,  hingga bercangkir-cangkir,  ku ceritakan lagi tentang sunyi..  lambat laun membuatnya hidup,  lagi lagi dan lagi..  kamu berhasil,  kataku di depan gubuk kaca.  menunjuknya marah,  dengan kerut muka sendu...  kamu terlalu berpura-pura lanjutku dengan tawa berhujung tangis,  kamu terlalu berpura-pura, lanjutku lagi dan lagi,  kamu terlalu berpura-pura,  sekali lagi sembari melemparnya dengan cangkir tak berisi.  retak. patah. usai,,,  bukannya itu yg kau minta wahai puan..  sudahi pura-puramu,  orang-orang tak berhak tahu,  apa dan kenapa di b...

"patahan semangat yang semakin layu"

Gambar
"patahan semangat yang semakin layu"  Retakan putih yang tak lagi kau ijinkan menyatu ,  Bersama kikisan keramik yang terasa tua,  Pijakan-mu kini terasa membiru,  Bersama piluh yang kian menua,  tetesan semburat sang gadis melenguh ,  patahan semangat yang semakin layu,  retak...  patah,,,  semangat juang tak lagi ada pada diri sang gadis molek semua rintih hanya hiburan semua harap hanya candaan  bagi mereka..  mereka yang merasa tua, mereka yang tak lagi punya rassa  sewenangnya membuta, se'egonya membisu, terdiam belaka di balik tetesan piluh  tertawa renyah di kekang tangis...  ah sang gadis dengan sejuta pesona ,  begitu molek belai-mu pada sang semesta ,  riangmu meneteskan piluh pada senja nan meneduh ,  cerahmu membawa kenang redup pada mentari terselubung nestapa ,  bersenandung merdu di kaki langit nan meriah.  doa mu pada sang khalik ku harap tertuai..  kupang,2021 SANDRA KALI...

sepenggal tegur untuk jiwa

Gambar
"sepenggal tegur untuk jiwa" ...malam yang beranjak menuju mimpi di pagi terasa cepat berlalu,  gelap yang menghilang bersama seonggok jingga di pelupuk semesta terasa cepat bergulir, kesepian,  kehampa-an,  dan semua tentang kesendirian berlalu begitu cepat, sekawanan angan berlalu perlahan menghilang bersama embun pagi,  lantas mimpi itu kembali hadir menyuarakan seisi semesta dengan canda tawa-nya ,  harapan itu kembali bangkit, bergelorah bak tak ada yg mengecewakan, Lantas oleh-mu kau kepakan sayap mimpi itu berlalu,  menghilang sampai sejauh mata memandang pun tak ku temui mimpi-mu,  mimpi-mu yang ku kira telah kau kubur di atas awan langit,  heyy bangunlah ,  kau terlalu bodoh untuk menghilangkan mimpimu sepagi ini , .  Mimpimu,  ajaklah dia kembali kamu membutukannya,  jangan hanya diam dan terus berpikiran kosong,  kamu berhak memimpikan apapun,  tentunya kamu berhak bahagia dengan mimpimu,  sepen...

p h o s i t r o n 17

Gambar
  PHOSITRON 17 Sejenak setelah ku lisankan nama itu, apa yang sebenarnya terbesit dalam ruang isi kepalahmu, sekedar nama-kah, ataukah sebuah kata pintas yang sembari lewat menemani harimu, ataukah buatmu ia menjadi rumah yang kau rinduhkan untuk pulang lagi dan lagi,,,   ku rassa aku benar, iya … ku rasa kamu ada di point ketiga, menjadi rumah yang kau rinduhkan untuk pulang lagi dan lagi, ku harap ruang isi kepalahmu sama dengan ruang isi kepalaku, yang menjadikan sebuah nama untuk pulang sebagai rumah.   Kamu, kamu dan kita menjadi satu dalam jiwa phositron,        Kita tak memiliki ragahnya tapi kita punya jiwanya, Kita tak memiliki segalah yg bisa kita gunakan untuk mengagungkan namanya, Tapi kita punya cinta yang tulus untuk mejadikannya rumah ternyaman.   berawal bagai debuh yang tak tahu arah menujuh jalan pulang, Kita akhirnya menemui kata pulang   pada sebuah nama, melalui 8 isi kepalah ya...

(semesta & sang waktu)

Gambar
Berkali-kali terjatuh pada gelapnya malam,  berjuta mimpi yang pernah ku rangkai seakan hilang,  Berkali-kali terjatuh pada ketidak berdayaan,  angan yg perna ku miliki buyar seketika, Hilang,  kosong...  pada kebebasan yg ku ingini,  tapi yang di kirimkan malah sebaliknya...  terdiam ya memang itu mampuku saat ini,  terdiam ya itu sudah seharusnya, Hendak egois dan memintah lebih,  tapi rassa tak pernah mampu..  gelora yg membakar seakan raga ikut terbakar pada kesesakan,,  dahi seakan ikut berkerut menatap ketidak pastian ,, seakan iri pada kebebasan dunia,  melenggang tanpa pamit juga tak akan peduli,  sedangkan disini,  seakan mati pada ketakberdayaan,  hendak bangkit , lalu menelusuri lorong kesepian ,  aku tak akan pernah tahu , bagaimana jadinya nanti...  hendak bertanya pada semesta , semesta yang selalu ada dan sedia ada sebelum semua ini, tapi k...